Menanam Harapan di Tanah Kering: Ziarah Profetik AMGPM Menuju 100 Tahun

      Komentar Dinonaktifkan pada Menanam Harapan di Tanah Kering: Ziarah Profetik AMGPM Menuju 100 Tahun

Hatu, 27 Maret 2026 — Sinar matahari pagi menembus sela-sela pepohonan, menyinari lokasi perayaan Hari Ulang Tahun AMGPM di Negeri Hatu, Daerah Pulau Ambon Utara. Udara yang hangat berpadu dengan semangat para kader yang berkumpul, menghadirkan suasana penuh harapan di tengah kesederhanaan alam.

Di tanah yang diolah bersama, langkah-langkah kecil mulai ditorehkan bukan sekadar seremoni, tetapi tanda nyata dari sebuah panggilan. Perayaan ini menjadi lebih dari sekadar mengenang perjalanan, melainkan Refleksi perjalanan ziarah profetik menuju 100 tahun Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) menjadi ruang perenungan yang mendalam, sebagaimana disampaikan oleh Pdt. F. Rumaruson. Dalam perjalanan iman dan pelayanan, tidak jarang muncul kejenuhan untuk terus melangkah. Namun firman Tuhan dalam Galatia 6:9 senantiasa menasihati bahwa di tengah banyaknya tantangan, umat dipanggil untuk tidak jemu-jemu berbuat baik.

Ia menggambarkan pelayanan seperti seorang petani: tekun menanam dan menyiram, meski hasil tidak langsung terlihat. Pelayanan bukanlah proses instan, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan. Gereja dan organisasi bukan museum yang hanya mengenang masa lalu, tetapi harus terus bergerak, hidup, dan bertumbuh dalam terang firman Tuhan. Bahkan dalam kelelahan, ketekunan menjadi tanda bahwa Tuhan sedang mengerjakan bagian-Nya dalam kehidupan umat.

Semangat ini diwujudkan secara nyata dalam pidato Ketua Umum AMGPM, Bung Eky Sairdekut, pada perayaan Hari Ulang Tahun AMGPM yang dilaksanakan serentak di tiga lokasi: Daerah Pulau Ambon Utara (Hatu), Daerah Pulau Ambon Timur (Hutumuri), dan wilayah Siwang di daerah kota di kebun Klasis yang terletak di Daerah Pulau Ambon. Dengan luas lahan masing-masing 31×15 m² di Hatu dan 33×37 m² di Hutumuri, kegiatan ini menjadi simbol gerakan menanam harapan melalui aksi konkret. Sebanyak 100 anakan cabai ditanam sebagai tanda awal, sementara Pengurus Besar AMGPM juga tengah mempersiapkan pembibitan 1000 anakan untuk ditanam pada momentum Paskah mendatang. Langkah ini menjadi bentuk keberanian melawan ketidakmungkinan, terutama karena lahan di Hutumuri dan Siwang dikenal minim sumber air.

Pengurus Besar juga memohon dukungan Majelis Pekerja Harian (MPH) agar tanah milik gereja dapat dimanfaatkan oleh AMGPM sebagai lahan pengembangan ekonomi produktif. Pada hari yang sama, 34 daerah AMGPM turut merayakan HUT dengan berbagai kegiatan kreatif dan aksi sosial, sebagai wujud panggilan pelayanan bagi bangsa dan negara. Kebun yang dibangun ini nantinya akan dikelola oleh kader sebagai bagian dari pembinaan dan pemberdayaan.

Dalam arahannya, Ketua Sinode GPM, Pdt. S. I. Sapulette, menegaskan bahwa perayaan ini bukan sekadar memperingati usia organisasi, melainkan merayakan panggilan pemuda untuk melayani. Ziarah profetik menuju 100 tahun bukan tentang mencari jati diri, tetapi memurnikan panggilan dan menata kerja nyata secara strategis.

Sejarah telah mencatat bagaimana AMGPM menunjukkan kemandirian dan militansi bagi gereja dan bangsa. Namun kini, tema tahun ini menunjukan aksi dan kerja nyata bukan sekadar slogan, melainkan langkah apologetis menuju satu dekade ke depan. Ketekunan dalam iman bukan menjadikan organisasi sekadar mesin program, tetapi berakar kuat dalam Kristus. Ia juga menekankan pentingnya kaderisasi sebagai inti pertumbuhan organisasi. AMGPM dibesarkan bukan oleh nama besar, tetapi oleh ketekunan dalam menyiapkan kader yang setia dan tangguh.

Simbol menanam menjadi pesan kuat: bukan lagi sekadar menulis proposal, tetapi mengelola lahan dan menghadirkan kesejahteraan nyata. Ketua Sinode bahkan mendorong agar setiap jenjang organisasi dari daerah, cabang hingga ranting memiliki kebun sebagai bentuk kemandirian dan pelayanan kontekstual pesan ini harap disampaikan dalam setiap pertemuan organisasi di setiap level.

Kegiatan di lokasi Pulau Ambon Utara turut dihadiri oleh sejumlah pimpinan gereja, antara lain Ketua Sinode GPM, Sekretaris Umum Sinode, Wakil Ketua II Sinode, Pengurus Besar AMGPM, Kepala Bagian Pengembangan Organisasi & Administrasi Sinode GPM, Ketua Yayasan Kesehatan GPM, Ketua Klasis GPM Pulau Ambon Utara
Ketua Klasis GPM Pulau Ambon Timur, Ketua Klasis GPM P.P Banda, Sekretaris Klasis GPM Pulau Ambon, dan kader AMGPM.

Momentum ini menjadi penegasan bahwa dalam setiap keterbatasan, selalu ada harapan yang ditanam. Dan seperti petani yang setia bekerja, AMGPM terus melangkah, menabur, merawat, dan percaya bahwa pada waktunya, Tuhan akan memberi hasil yang baik.